BukaBeritanya ← Kembali
Iklan
Iklan Atas Artikel
Citizen Journalism

PROF. GANEFRI, AKADEMISI DARI RANAH MINANG DI MEJA FORMATUR PBNU

03 September 2026
4 min read
PROF. GANEFRI, AKADEMISI DARI RANAH MINANG DI MEJA FORMATUR PBNU
Iklan
Iklan Setelah Gambar atau Video Artikel

Penunjukan Prof. Ganefri sebagai salah satu anggota tim formatur Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2026–2031 menghadirkan warna tersendiri dalam proses penyusunan kepengurusan organisasi Islam terbesar di Indonesia itu.

Nama Prof. Ganefri mungkin lebih dahulu dikenal di lingkungan akademik, khususnya di Sumatera Barat. Ia pernah menjabat Rektor Universitas Negeri Padang (UNP) selama dua periode, 2016–2024. Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai rektor, pengalaman dan jejaringnya tetap dibutuhkan untuk pengembangan institusi pendidikan tersebut.

Namun, perjalanan Ganefri tidak hanya berada di lingkungan kampus. Ia juga aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama dan saat ini dipercaya sebagai Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Barat periode 2024–2029.

Dua pengalaman tersebut menjadi menarik ketika kini ia dipercaya duduk dalam tim formatur PBNU.

Tim formatur memiliki posisi strategis karena bertugas menyusun kepengurusan PBNU untuk periode lima tahun mendatang. Setelah Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas menetapkan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU, tim tersebut menjadi ruang penting untuk menerjemahkan hasil muktamar ke dalam komposisi kepengurusan.

Prof. Ganefri berada di dalamnya sebagai salah satu representasi wilayah Barat.

Kehadiran tokoh dari luar Jawa dalam proses tersebut memiliki arti penting bagi organisasi yang memiliki jaringan luas hingga ke berbagai daerah. NU berkembang dengan karakter sosial yang tidak selalu sama antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Pengalaman mengelola NU di Sumatera Barat karena itu dapat menjadi perspektif tersendiri dalam menyusun kepengurusan di tingkat nasional.

Lebih dari sekadar representasi geografis, Ganefri membawa pengalaman panjang di dunia pendidikan tinggi.

Memimpin perguruan tinggi selama delapan tahun membuatnya berhadapan dengan berbagai persoalan tata kelola organisasi, pengembangan sumber daya manusia, pendidikan, riset, jejaring kelembagaan, hingga tuntutan adaptasi terhadap perubahan.

Pengalaman tersebut relevan dengan tantangan NU yang semakin kompleks.

PBNU saat ini tidak hanya berhadapan dengan persoalan keagamaan dalam pengertian tradisional. Organisasi ini memiliki jaringan pesantren, lembaga pendidikan, perguruan tinggi, rumah sakit, lembaga sosial, ekonomi, serta berbagai badan dan institusi yang membutuhkan tata kelola yang semakin profesional.

Di sisi lain, profesionalisme tidak dapat dipisahkan dari karakter dasar NU sebagai organisasi yang bertumpu pada tradisi keilmuan, pesantren, dan khidmah.

Persilangan antara pengalaman akademik dan pengalaman keorganisasian menjadi salah satu modal yang dibawa Ganefri ke dalam tim formatur.

Ia juga membawa pengalaman mengelola NU di wilayah yang memiliki tradisi intelektual dan keislaman yang kuat. Sumatera Barat memiliki sejarah panjang dalam perkembangan pemikiran Islam Indonesia. Dalam konteks tersebut, keberadaan NU tidak dapat dilepaskan dari dinamika masyarakat lokal yang memiliki karakter tersendiri.

Pengalaman semacam itu penting bagi PBNU. Organisasi sebesar NU membutuhkan kepengurusan yang tidak hanya merefleksikan kekuatan pusat, tetapi juga memahami keragaman basis sosialnya.

Karena itu, pekerjaan tim formatur bukan sekadar mencari dan menyusun nama untuk mengisi struktur organisasi.

Ada tantangan yang lebih besar: memastikan kepengurusan PBNU mampu menerjemahkan hasil muktamar menjadi agenda kerja yang konkret, sekaligus menjawab perubahan sosial yang berlangsung cepat.

Di titik inilah pengalaman masing-masing anggota formatur akan diuji.

Prof. Ganefri memiliki latar belakang yang relatif berbeda dari sebagian tokoh NU yang selama ini lebih dikenal melalui pesantren atau jalur keulamaan. Ia tumbuh dari dunia akademik, kemudian aktif dalam struktur NU di daerah, dan kini masuk dalam proses penataan organisasi di tingkat nasional.

Perjalanan tersebut menunjukkan semakin luasnya ruang pengabdian dalam tubuh NU.

Kampus, pesantren, organisasi, dunia profesional, dan berbagai ruang sosial lainnya dapat menjadi tempat kader NU berkontribusi. Yang membedakan bukan semata-mata latar belakangnya, tetapi bagaimana pengalaman tersebut diterjemahkan menjadi kerja organisasi.

Pada akhirnya, kualitas tim formatur tidak akan ditentukan oleh seberapa banyak nama besar yang berhasil masuk dalam kepengurusan PBNU. Ukurannya adalah apakah struktur tersebut mampu menghadirkan organisasi yang efektif, representatif, berintegritas, dan memiliki kapasitas menghadapi tantangan lima tahun mendatang.

Prof. Ganefri kini berada di salah satu ruang penting dalam proses tersebut.

Pengalaman sebagai akademisi dan pengelola perguruan tinggi, ditambah pengalamannya memimpin NU di Sumatera Barat, menjadi perspektif yang dapat ikut memperkaya proses penyusunan kepengurusan PBNU.

Dari ranah Minang, ia kini ikut berada di meja yang menentukan arah organisasi di tingkat nasional.

Bukan sekadar membawa nama Sumatera Barat, tetapi membawa pengalaman daerah, dunia akademik, dan organisasi ke dalam sebuah proses yang akan menentukan wajah PBNU lima tahun ke depan.

 

Iklan
Iklan Setelah Isi Artikel
Topik Terkait
#CitizenJournalism #MahmudMahmudin #BukaBeritanya #BeritaIndonesia #Organisasi #Pengalaman #Pbnu #Tersebut
Mahmud Mahmudin
Ditulis Oleh

Mahmud Mahmudin

Jurnalis Warga
✍ Artikel Resmi
📰 Citizen Journalism

Jurnalis Senior

Lihat Semua Tulisan →
Iklan
Slot Iklan Sebelum Komentar
Sponsor Lokal / Banner 728x90 / 300x250
Upload gambar ke /uploads/iklan/ lalu isi nama file di fungsi renderAdSlotBukaberitanya()
Diskusi

Komentar Pembaca

Nama Anda
11 Sep 2026 07:12
hello
Newsletter

Jangan Ketinggalan Berita Terbaru

Dapatkan update berita, perspektif, market dan cerita warga langsung ke email Anda.

Related News

Berita Terkait

Iklan
Iklan Mobile Bawah