Setelah Gus Kikin terpilih memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk periode 2026–2031, pekerjaan sesungguhnya justru baru dimulai. Muktamar telah selesai, kontestasi telah menghasilkan pemenang, dan kini seluruh energi semestinya dikembalikan kepada kepentingan yang lebih besar: membangun organisasi yang solid, efektif, dan mampu menjawab tantangan warga Nahdlatul Ulama.
Dalam fase seperti ini, siapa yang mendampingi Ketua Umum menjadi persoalan yang tidak kalah penting dari siapa yang memimpin.
Karena itu, pembicaraan mengenai figur Sekretaris Jenderal PBNU menjadi relevan. Salah satu nama yang mengemuka adalah Lukman Edy.
Menurut saya, Lukman Edy layak dipertimbangkan secara serius untuk mendampingi Gus Kikin sebagai Sekjen PBNU. Bukan semata karena sejarah perjalanan organisasinya, melainkan karena ada kebutuhan strategis yang harus dijawab oleh kepengurusan PBNU lima tahun ke depan.
PBNU membutuhkan orang yang bukan hanya memahami organisasi, tetapi juga mampu menggerakkan organisasi.
Itulah titik berangkat yang penting.
PBNU Tidak Hanya Membutuhkan Pemimpin, tetapi Juga Penggerak
Organisasi sebesar NU tidak dapat berjalan hanya dengan mengandalkan figur ketua umum.
PBNU memiliki struktur yang luas, jaringan yang berlapis, serta ribuan lembaga dan komunitas yang terhubung dari pusat hingga daerah. Di dalamnya terdapat PWNU, PCNU, MWCNU, ranting, lembaga, badan otonom, pesantren dan berbagai jaringan sosial kemasyarakatan.
Semua itu membutuhkan koordinasi.
Keputusan organisasi harus diterjemahkan menjadi program. Program harus diterjemahkan menjadi kerja. Dan kerja harus menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan warga.
Di sinilah Sekjen memiliki posisi yang sangat menentukan.
Sekjen bukan sekadar pejabat administratif yang mengurus surat-menyurat dan agenda rapat. Ia adalah salah satu penggerak utama organisasi. Ia harus mampu membaca persoalan, menghubungkan berbagai unsur, menjaga ritme kerja, dan memastikan kebijakan pimpinan tidak berhenti di tingkat pusat.
Dengan kata lain, Sekjen harus menjadi orang yang bisa bekerja.
Dalam konteks kebutuhan tersebut, pengalaman Lukman Edy menjadi relevan.
Pengalaman Adalah Modal, Bukan Sekadar Riwayat
Lukman Edy memiliki pengalaman panjang dalam organisasi dan pemerintahan. Ia pernah menduduki posisi Sekretaris Jenderal PKB dan pernah menjadi Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal.
Yang penting dari pengalaman tersebut bukan semata-mata jabatan yang pernah diemban.
Yang lebih penting adalah pengalaman mengelola organisasi, membangun komunikasi, menghadapi kompleksitas kepentingan, serta bekerja dalam struktur nasional.
Kemampuan semacam itu tidak lahir dalam sehari.
Mengelola organisasi membutuhkan ketahanan, kesabaran, kemampuan membaca situasi, sekaligus keberanian mengambil keputusan.
PBNU membutuhkan kombinasi kemampuan tersebut.
Apalagi organisasi ini berada dalam lingkungan sosial yang sangat kompleks. NU tidak hanya berhadapan dengan persoalan keagamaan, tetapi juga pendidikan, ekonomi, kesehatan, pesantren, kebangsaan, pemberdayaan masyarakat, hingga hubungan kelembagaan dengan negara.
Sekjen harus mampu bekerja dalam seluruh spektrum tersebut.
Karena itu, pengalaman Lukman Edy seharusnya dibaca sebagai modal kompetensi.
PBNU Harus Terasa sebagai Organisasi Nasional
Ada persoalan lain yang menurut saya penting: representasi.
NU adalah organisasi nasional. Basisnya tidak berhenti di Jawa. Warga NU tersebar dari Sumatra hingga Papua, dengan karakter sosial dan tantangan yang berbeda-beda.
Karena itu, struktur kepengurusan PBNU juga perlu mencerminkan wajah Indonesia yang luas.
Dalam konteks inilah komposisi Jawa dan non-Jawa menjadi penting.
Bukan untuk mempertentangkan satu wilayah dengan wilayah lain. Bukan pula untuk membangun dikotomi geografis.
Justru sebaliknya, perimbangan representasi diperlukan agar seluruh warga NU merasa memiliki rumah yang sama.
Ketika figur-figur utama dalam kepemimpinan berasal dari satu wilayah yang sama, maka menghadirkan tokoh dengan pengalaman dan jejaring nasional yang kuat dapat menjadi bagian dari upaya memperluas spektrum representasi.
Lukman Edy memiliki pengalaman dan jaringan yang memungkinkan fungsi tersebut dijalankan.
Ia mengenal dinamika organisasi di tingkat nasional dan memiliki pengalaman berinteraksi dengan berbagai daerah.
Karena itu, kehadirannya dapat menjadi salah satu unsur yang memperkuat perspektif nasional dalam kepengurusan PBNU.
Kerja Keras dalam Memenangkan Gus Kikin
Ada satu hal yang juga tidak boleh dilupakan.
Dalam sebuah organisasi, terutama setelah proses kontestasi yang cukup dinamis, faktor kepercayaan menjadi sangat penting.
Hubungan kerja tidak dibangun hanya melalui struktur formal. Ia tumbuh dari pengalaman bersama, komunikasi, dan kemampuan melewati situasi sulit.
Dalam proses konsolidasi menuju kemenangan Gus Kikin, Lukman Edy disebut menjadi bagian dari kerja-kerja pemenangan dan konsolidasi.
Terlepas dari berbagai dinamika yang menyertai proses tersebut, satu hal dapat dibaca: ada pengalaman bekerja bersama antara tim Gus Kikin dengan Lukman Edy.
Ini penting.
Sebab setelah kemenangan, pekerjaan yang dihadapi bukan lagi bagaimana memenangkan kontestasi, tetapi bagaimana mengubah energi kemenangan menjadi energi konsolidasi organisasi.
Dan orang yang telah teruji dalam kerja keras konsolidasi tentu memiliki pengalaman yang dapat digunakan untuk fase tersebut.
Dari Pemenangan Menuju Konsolidasi
Di sinilah saya melihat alasan paling strategis.
Kontestasi selalu memiliki titik akhir. Organisasi tidak.
Setelah Muktamar selesai, tidak boleh ada lagi logika "kelompok yang menang" dan "kelompok yang kalah". Yang ada adalah satu organisasi yang harus bekerja bersama.
Gus Kikin membutuhkan figur yang mampu membantu merajut kembali berbagai kekuatan tersebut.
Sekjen harus mampu menjadi jembatan.
Ia harus dapat berkomunikasi dengan struktur yang berbeda, memahami karakter daerah yang berbeda, serta menjaga agar seluruh mesin organisasi bergerak dalam arah yang sama.
Pengalaman konsolidasi Lukman Edy dapat menjadi modal untuk pekerjaan tersebut.
Jika sebelumnya energi digunakan untuk memenangkan Gus Kikin, maka energi yang sama kini harus diarahkan untuk memenangkan kepentingan organisasi dan warga NU.
Itulah transformasi yang dibutuhkan.
Gus Kikin dan Lukman Edy: Dua Kapasitas yang Saling Melengkapi
Kepemimpinan yang kuat tidak selalu dibangun oleh orang-orang dengan karakter dan pengalaman yang sama.
Sering kali justru lebih efektif ketika terdapat kemampuan yang saling melengkapi.
Gus Kikin memiliki legitimasi kepemimpinan dan akar yang kuat dalam tradisi serta lingkungan NU.
Sementara Lukman Edy membawa pengalaman manajerial, pengalaman pemerintahan, pengalaman organisasi nasional dan jejaring lintas wilayah.
Keduanya berpotensi membentuk pasangan kerja yang saling menguatkan.
Ketua Umum memberikan arah.
Sekjen memastikan arah itu diterjemahkan menjadi kerja.
Ketua Umum membangun visi.
Sekjen membantu membangun sistem untuk mewujudkannya.
Ketua Umum menjaga legitimasi dan arah politik organisasi.
Sekjen menjaga agar mesin organisasi tetap berjalan.
Tentu, semua itu hanya akan berhasil jika dibangun dalam hubungan kerja yang sehat, pembagian kewenangan yang jelas, dan loyalitas penuh kepada organisasi.
Yang Dibutuhkan NU Sekarang Adalah Eksekusi
PBNU periode lima tahun ke depan akan menghadapi pekerjaan yang tidak ringan.
Modernisasi tata kelola organisasi, penguatan kaderisasi, digitalisasi administrasi dan data, pengembangan ekonomi warga, penguatan pesantren, pendidikan, kesehatan, pengelolaan aset, hingga peningkatan kualitas komunikasi publik merupakan pekerjaan besar.
Gagasan tidak akan cukup.
Semua membutuhkan eksekusi.
Dan eksekusi membutuhkan orang yang memiliki pengalaman, ketahanan kerja, jaringan, serta kemampuan mengorganisasi.
Karena itu, memilih Sekjen harus mempertimbangkan kapasitas tersebut.
Bukan siapa yang paling ramai dibicarakan.
Bukan siapa yang paling banyak pendukungnya.
Tetapi siapa yang paling siap bekerja.
Sekjen Adalah Amanah untuk Lima Tahun
Jika Lukman Edy akhirnya dipercaya mendampingi Gus Kikin sebagai Sekjen PBNU, maka kepercayaan tersebut harus diterjemahkan menjadi target kerja yang jelas.
Ia harus mampu membuktikan bahwa pengalaman panjang yang dimilikinya dapat dikonversi menjadi kekuatan organisasi.
Ukuran keberhasilannya bukan jabatan.
Bukan pula seberapa dekat ia dengan pusat kekuasaan.
Ukuran keberhasilannya adalah apakah PBNU menjadi lebih tertata, lebih solid, lebih cepat merespons persoalan, dan semakin kuat menjangkau warga NU di seluruh Indonesia.
Pada akhirnya, pilihan seorang Sekjen harus dikembalikan pada satu pertanyaan sederhana:
Apakah orang tersebut mampu membantu Ketua Umum menjalankan mandat organisasi?
Dalam perspektif itu, Lukman Edy memiliki alasan yang cukup kuat untuk dipilih.
Ia memiliki pengalaman. Ia memiliki kompetensi. Ia memiliki jejaring. Ia memahami kerja organisasi. Dan ia telah menunjukkan kerja keras dalam proses konsolidasi yang mengantarkan Gus Kikin pada kepemimpinan PBNU.
Karena itu, mendukung Lukman Edy sebagai Sekjen bukan sekadar mendukung seorang nama.
Ini adalah dukungan terhadap kebutuhan PBNU akan partner kerja strategis bagi Ketua Umum, penggerak organisasi, sekaligus jembatan konsolidasi nasional.
Gus Kikin telah memperoleh mandat untuk memimpin.
Kini yang dibutuhkan adalah orang-orang yang mampu membantunya menjalankan mandat itu dengan kerja nyata.
Dan dalam kebutuhan tersebut, Lukman Edy layak diberi kepercayaan.