BUKABERITANYA.COM – Peta persaingan menuju Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) mulai menunjukkan arah yang lebih jelas. Dukungan terbuka dari 23 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di Jawa Tengah kepada KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf menjadi sinyal bahwa konsolidasi politik di tubuh NU mulai memasuki fase yang lebih serius.
Berbeda dengan dinamika beberapa bulan sebelumnya yang masih sebatas spekulasi nama-nama calon, kini dukungan mulai dinyatakan secara terbuka oleh struktur organisasi di tingkat cabang.
Jawa Tengah sendiri memiliki posisi strategis dalam konstelasi NU nasional. Selain menjadi salah satu basis terbesar warga nahdliyin, provinsi ini juga dikenal memiliki pengaruh besar terhadap arah pembentukan opini menjelang Muktamar.
Dukungan terhadap Gus Yusuf dinilai bukan sekadar dukungan personal kepada seorang kiai pengasuh pesantren, melainkan representasi aspirasi sebagian cabang yang menginginkan kepemimpinan PBNU lebih dekat dengan akar pesantren serta memperkuat kembali konsolidasi organisasi.
Meski demikian, dukungan tersebut belum dapat dimaknai sebagai penentu hasil Muktamar. Dalam tradisi NU, dinamika politik organisasi sering kali berubah hingga menjelang forum pemilihan. Komunikasi antarkiai, musyawarah para masyayikh, serta aspirasi dari berbagai wilayah masih menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi peta dukungan.
Pengamat organisasi juga melihat bahwa semakin banyaknya deklarasi dukungan menunjukkan kontestasi Ketua Umum PBNU mulai bergeser dari sekadar wacana menuju proses konsolidasi yang nyata.
Munculnya nama Gus Yusuf juga menambah daftar figur yang diperkirakan akan meramaikan bursa Ketua Umum PBNU. Persaingan diprediksi berlangsung dinamis hingga pelaksanaan Muktamar pada Agustus 2026, dengan berbagai kandidat terus membangun komunikasi kepada PWNU dan PCNU di seluruh Indonesia.
Yang menarik, dukungan dari Jawa Tengah berpotensi menjadi momentum bagi daerah lain untuk mulai menyatakan sikap secara terbuka. Jika tren deklarasi terus berlanjut, konstelasi Muktamar NU tahun ini diperkirakan menjadi salah satu yang paling kompetitif dalam beberapa periode terakhir.
Di sisi lain, sejumlah tokoh NU mengingatkan agar seluruh proses tetap dijalankan dalam semangat ukhuwah nahdliyah. Perbedaan pilihan dinilai sebagai bagian dari tradisi demokrasi organisasi, sementara keputusan akhir tetap berada di tangan para pemilik hak suara melalui mekanisme Muktamar sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga NU.