Partai politik, sejatinya, bukan dibangun oleh tembok sekretariat, rapat-rapat panjang, atau gemuruh tepuk tangan di panggung-panggung perayaan. Ia dibangun oleh ingatan. Ingatan tentang cita-cita. Tentang orang-orang kecil yang menitipkan harapan. Tentang janji yang suatu hari harus dipertanggungjawabkan.
Mungkin karena itulah usia dua puluh delapan tahun bukan sekadar hitungan kalender. Ia adalah perjalanan waktu yang menguji apakah sebuah partai masih mampu menjaga mata air idealismenya, atau perlahan mengering diterpa musim kekuasaan.
PKB lahir dari rahim sejarah yang tidak sederhana.
Ia tumbuh dari doa-doa para kiai, dari kesabaran kaum santri, dari kebijaksanaan tradisi yang mengajarkan bahwa politik bukan semata soal menang dan kalah, melainkan ikhtiar memuliakan manusia. Bahwa kekuasaan hanyalah alat; sementara pengabdian adalah tujuan.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh pertengkaran, fitnah, dan perlombaan merebut perhatian, politik sering kehilangan keheningannya. Padahal, justru di dalam keheningan itulah nurani berbicara. Di sanalah seorang kader bertanya kepada dirinya sendiri: masihkah aku berjalan bersama rakyat, atau hanya berjalan menuju kekuasaan?
Pertanyaan itu terasa begitu dekat ketika saya memandang Kota Bogor.
Kota yang setiap pagi disapa kabut, setiap sore dipeluk hujan, seolah mengajarkan satu hal sederhana: langit tidak pernah lelah menurunkan kehidupan. Hujan tidak memilih atap siapa yang akan dibasahi. Ia datang dengan kasih yang sama kepada rumah-rumah sederhana maupun gedung-gedung megah.
Bukankah politik seharusnya demikian?
Mengalir seperti hujan. Menyapa siapa saja tanpa bertanya siapa pendukungnya. Memberi manfaat tanpa menghitung keuntungan. Hadir sebelum dipanggil, bukan setelah kamera dinyalakan.
Di sudut-sudut Kota Bogor, kita masih menemukan wajah-wajah yang menunggu harapan: pedagang kecil yang membuka lapak sebelum matahari terbit, pengemudi yang menghabiskan hari di jalan, ibu-ibu yang cemas memikirkan biaya sekolah anaknya, para santri yang menimba ilmu dengan kesederhanaan, serta anak-anak muda yang membawa mimpi lebih besar daripada kesempatan yang mereka miliki.
Mereka tidak membutuhkan politik yang pandai berbicara.
Mereka membutuhkan politik yang mampu mendengar.
Karena sesungguhnya, rakyat tidak pernah meminta pemimpin yang sempurna. Mereka hanya berharap diperlakukan dengan tulus.
Di usia ke-28 ini, PKB sedang berdiri di sebuah persimpangan sejarah. Apakah ia akan menjadi partai yang sekadar dikenang karena masa lalunya, atau dicintai karena manfaatnya pada hari ini?
Jawaban atas pertanyaan itu tidak akan lahir dari pidato yang paling lantang. Ia tumbuh perlahan dalam kerja-kerja sunyi yang sering tidak terlihat. Dalam tangan yang mengangkat mereka yang terjatuh. Dalam langkah yang memilih tinggal ketika yang lain pergi. Dalam keberanian membela yang lemah meski tanpa sorotan.
Kota Bogor memberi pelajaran yang indah.
Pohon-pohon tua di Kebun Raya tidak pernah menjadi besar dalam semalam. Mereka tumbuh perlahan, akarnya menghunjam jauh ke dalam tanah, batangnya kokoh karena bertahun-tahun belajar menghadapi angin.
Begitu pula sebuah partai.
Usia panjang tidak menjamin kebesaran. Yang membuatnya tetap hidup adalah akar yang tidak pernah tercerabut dari rakyat.
Mungkin itulah makna terdalam Harlah.
Bukan tentang bertambahnya umur, melainkan bertambahnya kedewasaan. Bukan tentang mengenang kelahiran, tetapi memperbarui alasan mengapa kita tetap memilih jalan pengabdian.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya berapa banyak kursi yang pernah dimenangkan. Sejarah hanya akan mengingat satu hal: apakah kehadiran kita membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik.
Dan bila kelak nama PKB tetap disebut dengan hormat, semoga bukan karena besarnya partai ini, melainkan karena ia pernah menjadi teduh bagi mereka yang kepanasan, menjadi pelita bagi mereka yang kehilangan arah, dan menjadi mata air harapan bagi mereka yang nyaris putus asa.
Selamat Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa.
Semoga usia bukan hanya menambah waktu, tetapi juga menambah kebijaksanaan. Sebab partai yang besar bukanlah partai yang paling sering dirayakan, melainkan partai yang paling lama hidup di hati rakyat.
Panaragan Kidul, Kota Bogor I 220726 I @ahf