Pada 14 Juli 2026, lima hari sebelum partai final digelar, saya menulis sebuah opini berjudul "Ini Tahun Spanyol! La Furia Roja Akan Mengangkat Trofi Piala Dunia FIFA 2026."
Saat itu, banyak yang mungkin menganggapnya sekadar prediksi. Wajar. Sepak bola tidak pernah memberikan jaminan. Di atas kertas, Argentina datang sebagai juara bertahan. Prancis merupakan peringkat pertama FIFA. Inggris tampil konsisten sepanjang turnamen. Keempat semifinalis memiliki peluang yang sama besar.
Namun, saya memilih percaya kepada Spanyol.
Bukan karena fanatisme. Bukan pula karena keberuntungan. Keyakinan itu lahir dari apa yang saya lihat sepanjang turnamen. Spanyol memainkan sepak bola yang paling utuh. Mereka tidak hanya menguasai bola, tetapi juga menguasai pertandingan. Mereka tidak bergantung pada satu bintang, melainkan bekerja sebagai sebuah tim.
Tulisan itu memuat satu kalimat yang kini terasa begitu bermakna.
"Ini tahun Spanyol."
Hari ini, kalimat itu bukan lagi sebuah prediksi.
Ia telah menjadi sejarah.
La Furia Roja menepati semua yang saya yakini. Mereka menumbangkan Prancis di semifinal, kemudian mengalahkan Argentina di partai final untuk mengangkat Trofi Piala Dunia FIFA 2026.
Perjalanan mereka bukanlah perjalanan yang mudah. Mereka harus melewati lawan-lawan terbaik dunia. Portugal di fase gugur, Belgia di perempat final, Prancis di semifinal, dan Argentina di final. Tidak ada jalan pintas menuju gelar juara. Justru karena lawan-lawan yang dihadapi begitu berat, gelar ini terasa semakin pantas.
Bagi saya, kemenangan Spanyol bukan hanya kemenangan sebuah negara. Ini adalah kemenangan sebuah filosofi sepak bola.
Di era ketika banyak tim mengandalkan kekuatan fisik, transisi cepat, dan individualitas, Spanyol menunjukkan bahwa permainan kolektif masih memiliki tempat tertinggi. Mereka membangun serangan dengan kesabaran, bertahan dengan disiplin, dan menyerang dengan kecerdasan. Ketika banyak tim bermain untuk tidak kalah, Spanyol bermain untuk mengendalikan pertandingan.
Generasi ini juga membuktikan bahwa regenerasi tidak selalu berarti penurunan kualitas. Sebaliknya, regenerasi yang dirancang dengan baik mampu melahirkan era baru. Pemain-pemain muda tampil tanpa rasa takut, dipadukan dengan pengalaman para senior yang menjaga keseimbangan tim.
Mungkin inilah pelajaran terbesar dari Piala Dunia 2026.
Juara tidak selalu lahir dari nama-nama terbesar. Juara lahir dari proses yang paling konsisten.
Ketika saya menulis opini lima hari sebelum final, saya menutupnya dengan kalimat:
"Seorang juara dikenang karena berhasil menaklukkan lawan-lawan terbaik."
Hari ini, kalimat itu menemukan pembuktiannya.
Spanyol telah mengalahkan para raksasa dunia. Mereka menaklukkan tim-tim terbaik di turnamen ini. Dan karena itulah, dunia tidak hanya menyaksikan lahirnya juara baru, tetapi juga menyaksikan kembalinya La Furia Roja sebagai penguasa sepak bola dunia.
Pada akhirnya, prediksi hanyalah sebuah analisis.
Yang mengubahnya menjadi sejarah adalah kenyataan di lapangan.
Dan kenyataan itu kini telah tercatat dengan tinta emas.
Ini memang tahun Spanyol.
Viva La Furia Roja!
Panaragan Kidul, Bogor
20 Juli 2026