TANGERANG SELATAN – Isu transparansi pendanaan Nahdlatul Ulama (NU) menjelang Muktamar 2026 kian mengemuka. Forum Bersama (FORBES) NU 26 menghadirkan pendekatan berbeda dengan mengangkat isu tersebut ke ruang akademik melalui Rembug Warga NU Se-Jabodetabek Seri II bertajuk "Dana, Kekuasaan, dan Independensi PBNU: Siapa Membiayai, Siapa Memengaruhi."
Menariknya, forum ini menghadirkan Rektor Universitas Terbuka periode 2025–2030, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., sebagai pembicara utama yang akan mengulas hubungan antara sumber pendanaan, kekuasaan, dan independensi organisasi dari perspektif tata kelola dan manajemen organisasi modern.
Koordinator FORBES NU, KH Abdul Waidl, mengatakan Muktamar seharusnya tidak hanya menjadi ajang memilih ketua umum baru, tetapi juga momentum memperkuat sistem organisasi agar semakin transparan, akuntabel, dan independen.
"Muktamar bukan hanya momentum memilih pemimpin, tetapi juga kesempatan memperkuat sistem. NU yang besar membutuhkan tata kelola yang besar pula: transparan, akuntabel, dan independen dari segala bentuk intervensi kepentingan," ujarnya, Sabtu (27/6/2026).
Menurut Abdul Waidl, NU selama hampir satu abad tumbuh dari kepercayaan warga, keteladanan para kiai, serta jaringan pesantren. Karena itu, tata kelola pendanaan organisasi perlu terus diperkuat agar kepercayaan tersebut tetap terjaga.
Kehadiran Prof. Ali Muktiyanto dinilai memberi dimensi akademik dalam diskusi tersebut. Sebagai pimpinan Universitas Terbuka, ia dijadwalkan membahas bagaimana organisasi besar membangun sistem pendanaan yang sehat, akuntabel, dan tetap menjaga independensi dalam pengambilan keputusan.
Selain Prof. Ali, forum juga menghadirkan Dr. KH Amin Mudzakkir, Pengasuh Pesantren Bustanul Ulum Tasikmalaya, yang akan membahas perspektif fikih mengenai dana umat dan etika kepemimpinan. Sementara Khoirun Nikmah, Direktur Eksekutif INFID, akan memaparkan praktik terbaik transparansi dan tata kelola organisasi masyarakat sipil.
Rembug Warga NU akan berlangsung pada Minggu (28/6/2026) di Universitas Terbuka, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, mulai pukul 13.00 hingga 17.00 WIB dalam format Syawir Terbuka, sehingga peserta dapat berdialog langsung dengan para narasumber.
Melalui forum ini, FORBES NU berharap pembahasan menjelang Muktamar tidak berhenti pada persaingan figur kepemimpinan, tetapi juga menyentuh aspek yang lebih mendasar, yakni penguatan tata kelola organisasi, transparansi pendanaan, dan menjaga independensi PBNU sebagai organisasi keagamaan yang dipercaya jutaan warga Nahdlatul Ulama.