Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah, naiknya harga kebutuhan pokok, dan semakin sulitnya lapangan kerja di perkotaan, Indonesia sesungguhnya sedang menghadapi persoalan besar dalam struktur ekonominya.
Rupiah saat ini bahkan sempat menyentuh level sekitar Rp17.670 per dolar AS — salah satu titik terlemah dalam sejarah modern Indonesia. Sementara Bank Indonesia sampai harus menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen demi menjaga stabilitas nilai tukar dan meredam tekanan pasar.
Namun masalah ekonomi Indonesia hari ini bukan hanya soal kurs dolar.
Persoalan yang lebih mendasar adalah semakin rapuhnya kehidupan ekonomi masyarakat, terutama di kota-kota besar. Lapangan kerja formal semakin sulit. Persaingan kerja makin keras. Banyak anak muda akhirnya masuk ke sektor informal dengan penghasilan yang tidak pasti.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat pengangguran Indonesia pada Februari 2026 berada di angka 4,68 persen, atau sekitar 7,24 juta pengangguran. Rata-rata upah buruh nasional juga hanya sekitar Rp3,29 juta per bulan.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa pusat-pusat ekonomi perkotaan mulai mengalami tekanan serius. Kota yang selama ini dianggap sebagai simbol harapan ekonomi perlahan berubah menjadi ruang hidup yang mahal dan kompetitif.

Ironisnya, di saat kota semakin sesak dan sulit, desa justru terus kehilangan generasi mudanya.
Selama puluhan tahun pembangunan nasional terlalu berorientasi pada pertumbuhan kota. Desa hanya dijadikan penyedia bahan pangan, sumber tenaga kerja murah, dan objek pembangunan administratif. Padahal desa memiliki potensi ekonomi yang jauh lebih besar daripada yang selama ini dibayangkan.
Fakta menariknya, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia dengan lebih dari 42 juta pekerja atau sekitar 28,78 persen dari total tenaga kerja nasional.
Artinya, ketika sektor-sektor modern di perkotaan mulai terguncang akibat tekanan global, ekonomi berbasis desa sebenarnya masih menjadi penopang utama kehidupan masyarakat Indonesia.
Sayangnya, negara belum benar-benar menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. Dana desa masih banyak terserap pada pembangunan fisik jangka pendek. Sementara penguatan ekonomi produktif seperti hilirisasi pertanian, koperasi desa, industri pangan lokal, dan digitalisasi UMKM belum berjalan maksimal.
Padahal jika desa diperkuat secara serius, Indonesia bisa memiliki fondasi ekonomi yang jauh lebih stabil. Desa bukan hanya ruang geografis, tetapi benteng ekonomi nasional.
Pembangunan desa juga dapat menjadi solusi atas krisis pasar kerja perkotaan. Jika lapangan kerja tumbuh di desa, maka urbanisasi berlebihan bisa ditekan. Anak-anak muda tidak lagi harus meninggalkan kampung halaman hanya untuk menjadi pekerja informal di kota besar.
Kita membutuhkan perubahan arah pembangunan nasional. Pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya diukur dari angka investasi dan gedung-gedung tinggi di perkotaan. Pertumbuhan sejati adalah ketika masyarakat desa juga memiliki akses terhadap pekerjaan, pasar, teknologi, dan kehidupan yang layak.
Jika tidak, maka ketimpangan akan terus melebar. Kota akan semakin penuh tekanan sosial, sementara desa semakin kehilangan tenaga produktifnya.
Sudah saatnya desa ditempatkan bukan sebagai halaman belakang pembangunan, melainkan sebagai garis depan masa depan ekonomi Indonesia.