BukaBeritanya ← Kembali
Iklan
Iklan Atas Artikel
Nasional

Bukan Sekadar Waisak, Jakarta Sedang Menjual Wajah Toleransi kepada Dunia

Lidia Saputri Lidia Saputri VERIFIED JOURNALIST
31 May 2026
3 min read
Bukan Sekadar Waisak, Jakarta Sedang Menjual Wajah Toleransi kepada Dunia
Iklan
Iklan Setelah Gambar atau Video Artikel

Di tengah persaingan antar kota global untuk menarik wisatawan, investasi, dan perhatian dunia, Jakarta tampaknya mulai menyadari bahwa toleransi dan keberagaman bukan hanya nilai sosial, tetapi juga aset strategis yang dapat dipromosikan kepada dunia.

Perayaan Hari Raya Waisak 2570 Buddhist Era di kawasan Bundaran HI melalui gelaran "Illumination of Jakarta, Glow of Peace" bukan sekadar seremoni keagamaan tahunan. Di balik gemerlap instalasi cahaya, pertunjukan budaya, dan doa bersama yang berlangsung sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2026, tersimpan pesan yang jauh lebih besar: Jakarta sedang membangun citra dirinya sebagai kota yang terbuka, damai, dan inklusif.

Pemilihan Bundaran HI sebagai pusat kegiatan bukan tanpa alasan. Kawasan ini merupakan salah satu ikon paling dikenal dari Jakarta. Apa yang ditampilkan di ruang publik tersebut akan dengan mudah tersebar melalui media sosial, pemberitaan internasional, hingga unggahan para wisatawan. Dalam konteks itu, setiap lampu yang menyala dan setiap pesan perdamaian yang disampaikan menjadi bagian dari narasi besar tentang wajah Jakarta yang ingin diperlihatkan kepada dunia.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Andhika Permata, menegaskan bahwa perayaan Waisak tahun ini menjadi bagian penting dalam menunjukkan Jakarta sebagai kota yang terbuka, damai, dan penuh semangat kebersamaan. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya melihat Waisak sebagai perayaan umat Buddha, melainkan juga sebagai momentum untuk memperkuat identitas kota yang menghargai keberagaman.

Di banyak negara maju, toleransi telah menjadi bagian dari strategi pembangunan kota. Kota-kota seperti Singapore, Melbourne, hingga Toronto secara konsisten mempromosikan keberagaman budaya dan harmoni sosial sebagai daya tarik utama. Mereka memahami bahwa wisatawan modern tidak hanya mencari gedung pencakar langit atau pusat perbelanjaan, tetapi juga pengalaman sosial yang menunjukkan keterbukaan dan penghargaan terhadap perbedaan.

Jakarta tampaknya mulai bergerak ke arah yang sama.

Melalui kolaborasi dengan Persatuan Umat Buddha Indonesia dan Perwakilan Umat Buddha Indonesia, pemerintah menghadirkan sebuah perayaan yang tidak hanya diperuntukkan bagi umat Buddha, tetapi juga melibatkan komunitas lintas agama, pelaku ekonomi kreatif, dan masyarakat umum. Pesan yang ingin disampaikan cukup jelas: Jakarta adalah rumah bersama.

Pendekatan semacam ini memiliki nilai strategis yang besar. Dalam era ekonomi kreatif, citra kota menjadi salah satu faktor penting dalam menarik investasi dan kunjungan wisata. Investor cenderung lebih tertarik pada kota yang stabil secara sosial, sementara wisatawan global semakin menghargai destinasi yang aman, ramah, dan menghormati keberagaman.

Karena itu, festival cahaya di Bundaran HI tidak hanya menghasilkan foto-foto menarik untuk media sosial. Ia juga menjadi instrumen diplomasi budaya yang memperlihatkan bahwa Indonesia, melalui Jakarta, memiliki modal sosial yang kuat untuk hidup dalam keberagaman.

Namun, tantangan sesungguhnya tidak berhenti pada penyelenggaraan sebuah festival. Citra toleransi yang dipromosikan harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari warga kota. Ruang publik yang inklusif, pelayanan publik yang setara, kesempatan ekonomi yang terbuka, serta penghormatan terhadap hak setiap warga tanpa memandang latar belakang agama maupun budaya menjadi ukuran nyata dari keberhasilan pesan tersebut.

Perayaan Waisak 2026 pada akhirnya memberikan pelajaran penting bahwa kota modern tidak hanya dibangun melalui jalan layang, gedung tinggi, dan pusat bisnis. Kota juga dibangun melalui nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakatnya.

Dan ketika cahaya-cahaya Waisak menyala di jantung ibu kota, Jakarta sedang mengirimkan pesan kepada dunia bahwa keberagaman bukanlah ancaman, melainkan kekuatan. Bahwa di tengah hiruk-pikuk megapolitan, masih ada ruang untuk damai, saling menghormati, dan hidup berdampingan.

Karena itu, "Illumination of Jakarta, Glow of Peace" bukan sekadar perayaan keagamaan. Ia adalah panggung tempat Jakarta memperkenalkan dirinya kepada dunia: sebuah kota yang ingin dikenal bukan hanya karena gedung-gedungnya, tetapi juga karena toleransinya.

Iklan
Iklan Setelah Isi Artikel
Topik Terkait
#Nasional #LidiaSaputri #BukaBeritanya #BeritaIndonesia #Jakarta #Kota #Bahwa #Hanya
Lidia Saputri
Ditulis Oleh

Lidia Saputri

Jurnalis Bukaberitanya.com
✍ Artikel Resmi
✔ Verified Journalist

seorang Ibu Rumah Tangga di Kampung Yang Suka Menulis

Lihat Semua Tulisan →
Iklan
Slot Iklan Sebelum Komentar
Sponsor Lokal / Banner 728x90 / 300x250
Upload gambar ke /uploads/iklan/ lalu isi nama file di fungsi renderAdSlotBukaberitanya()
Diskusi

Komentar Pembaca

Newsletter

Jangan Ketinggalan Berita Terbaru

Dapatkan update berita, perspektif, market dan cerita warga langsung ke email Anda.

Related News

Berita Terkait

Iklan
Iklan Mobile Bawah