BukaBeritanya ← Kembali
Iklan
Iklan Atas Artikel
Citizen Journalism

Di Tengah Aroma Tembakau, Petani Sumenep Bertaruh pada Musim dan Harga

Lidia Saputri Lidia Saputri VERIFIED JOURNALIST
18 May 2026
2 min read
Di Tengah Aroma Tembakau, Petani Sumenep Bertaruh pada Musim dan Harga
Iklan
Iklan Setelah Gambar atau Video Artikel
SUMENEP — Matahari belum tinggi ketika puluhan petani mulai turun ke ladang tembakau di pelosok desa wilayah Kabupaten Sumenep. Dengan topi caping dan tangan penuh noda tanah, mereka memeriksa daun-daun tembakau yang mulai menguning, pertanda musim panen segera tiba. Bagi masyarakat Madura, khususnya di Sumenep, tembakau bukan sekadar tanaman musiman. Tembakau adalah sumber penghidupan, harapan keluarga, sekaligus warisan yang diwariskan turun-temurun. “Kalau musim bagus dan harga naik, hasil tembakau bisa buat biaya sekolah anak sampai memperbaiki rumah,” kata Hasan, seorang petani tembakau asal Kecamatan Guluk-Guluk. Namun di balik harapan itu, para petani harus menghadapi ketidakpastian yang datang setiap tahun. Cuaca yang sulit diprediksi menjadi tantangan utama. Hujan yang turun terlalu cepat bisa merusak kualitas daun tembakau dan menyebabkan harga jual anjlok. Selain faktor cuaca, persoalan harga juga menjadi keluhan klasik para petani. Mereka sering kali tidak memiliki posisi tawar yang kuat ketika menjual hasil panen kepada tengkulak atau pengepul. “Kadang biaya tanam mahal, pupuk naik, tenaga kerja juga mahal. Tapi saat panen harga belum tentu bagus,” ujar Hasan sambil menjemur daun tembakau di halaman rumahnya. Di sejumlah desa, aktivitas pengeringan tembakau menjadi pemandangan khas saat musim panen tiba. Daun-daun yang telah dipetik dijemur di bawah terik matahari sebelum diproses lebih lanjut. Aroma khas tembakau memenuhi udara kampung, menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Tidak hanya kaum pria, perempuan dan anak-anak muda di desa juga ikut membantu proses panen hingga pengeringan. Tradisi gotong royong masih terasa kuat di tengah aktivitas pertanian tembakau. Meski demikian, sebagian generasi muda mulai enggan melanjutkan pekerjaan sebagai petani. Mereka memilih merantau ke kota karena menganggap bertani tidak lagi menjanjikan secara ekonomi. Kondisi itu membuat sejumlah warga berharap ada perhatian lebih terhadap nasib petani tembakau, mulai dari stabilitas harga, akses pupuk, hingga perlindungan saat gagal panen. Bagi masyarakat Sumenep, tembakau tetap menjadi denyut ekonomi desa. Di tengah ketidakpastian musim dan pasar, para petani terus bertaruh pada tanah, cuaca, dan harapan agar hasil panen tahun ini membawa kehidupan yang lebih baik bagi keluarga mereka.
Iklan
Iklan Setelah Isi Artikel
Topik Terkait
#CitizenJournalism #LidiaSaputri #BukaBeritanya #BeritaIndonesia #Tembakau #Petani #Panen #Harga
Lidia Saputri
Ditulis Oleh

Lidia Saputri

Jurnalis Bukaberitanya.com
✍ Artikel Resmi
✔ Verified Journalist

seorang Ibu Rumah Tangga di Kampung Yang Suka Menulis

Lihat Semua Tulisan →
Iklan
Slot Iklan Sebelum Komentar
Sponsor Lokal / Banner 728x90 / 300x250
Upload gambar ke /uploads/iklan/ lalu isi nama file di fungsi renderAdSlotBukaberitanya()
Diskusi

Komentar Pembaca

Newsletter

Jangan Ketinggalan Berita Terbaru

Dapatkan update berita, perspektif, market dan cerita warga langsung ke email Anda.

Related News

Berita Terkait

Iklan
Iklan Mobile Bawah