BOGOR – Pemandangan yang tidak biasa terlihat di Pesantren Dipamenggala Al Hasanah, Kota Bogor. Di tengah kunjungan sejumlah tokoh agama, tokoh lintas iman, dan tokoh masyarakat, Pimpinan Pesantren Dipamenggala Al Hasanah, Kyai Abdul Wafa, justru terlihat sibuk di dapur.
Bukan sekadar memantau, Kyai Abdul Wafa turun langsung menyiapkan hidangan makan siang untuk para tamunya. Menu yang disajikan pun istimewa, yakni nasi kebuli dan sop iga sapi yang menjadi santapan bersama dalam suasana penuh kehangatan dan persaudaraan.
Jamuan tersebut menjadi bagian dari silaturahmi antara jajaran Badan Sosial Lintas Agama (Basolia) Kota Bogor dengan keluarga besar Pesantren Dipamenggala Al Hasanah. Hadir dalam kesempatan itu Ketua Basolia Kota Bogor Arifin Hinawan, Herlan Bengardi, Hendi Thio dari BERANI (Badan Persaudaraan Antar Iman) Kota Bogor, Pimpinan Pesantren Al Ghozaly KH Mustofa ABN, penggiat tariqah Apit Budiman, Heri Firdaus yang dikenal sebagai tokoh PKB Kota Bogor, serta sejumlah tokoh masyarakat lainnya.

Aroma rempah nasi kebuli yang khas berpadu dengan hangatnya sop iga sapi menciptakan suasana akrab di antara para tamu yang berasal dari latar belakang berbeda. Hidangan tersebut bukan sekadar menu makan siang, melainkan simbol penghormatan dan persaudaraan yang ditunjukkan langsung oleh tuan rumah.
Dalam suasana santai dan penuh kekeluargaan, para tokoh berdiskusi mengenai pentingnya menjaga kerukunan, memperkuat persaudaraan antarumat beragama, serta meningkatkan kerja sama dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan di Kota Bogor.
Arifin Hinawan menyampaikan apresiasinya atas sambutan yang diberikan Kyai Abdul Wafa. Menurutnya, keteladanan yang ditunjukkan melalui sikap melayani dan menjamu tamu secara langsung menjadi pesan yang sangat kuat tentang pentingnya membangun hubungan antarmanusia di atas nilai-nilai kemanusiaan dan persaudaraan.
Sementara itu, Kyai Abdul Wafa menegaskan bahwa budaya memuliakan tamu merupakan bagian dari tradisi pesantren yang terus dijaga. Menurutnya, perbedaan keyakinan maupun latar belakang tidak boleh menjadi penghalang untuk saling mengenal, menghormati, dan bekerja sama dalam kebaikan.
"Pesantren harus menjadi rumah bagi persaudaraan, tempat orang-orang bisa bertemu, berdialog, dan saling memahami," ujarnya.
Pertemuan tersebut berlangsung penuh keakraban hingga siang hari. Tawa dan canda para peserta sesekali mengiringi diskusi yang membahas berbagai isu sosial kemasyarakatan. Di tengah beragam tantangan yang dihadapi bangsa, silaturahmi semacam ini menjadi pengingat bahwa kerukunan dapat dibangun dari hal-hal sederhana, termasuk melalui hidangan yang disajikan dengan ketulusan.
Silaturahmi ditutup dengan doa bersama dan foto bersama sebagai simbol komitmen untuk terus menjaga persatuan, memperkuat solidaritas sosial, serta merawat harmoni di tengah keberagaman masyarakat Kota Bogor.