“Presiden telepon saya, pesannya jelas: jangan kerja sendiri-sendiri,” ujar Cak Imin. Isyarat arah reshuffle mulai terasa di balik suasana halalbihalal kabinet.
Jakarta (Bukaberitanya.com) – Dalam suasana hangat Lebaran, sinyal politik dari Istana mulai terasa. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah mengirimkan pesan khusus kepada para menterinya: rapatkan barisan, satukan langkah.
Pesan itu disampaikan langsung oleh Presiden melalui sambungan telepon kepada Cak Imin pada Minggu (20/4) malam, bertepatan dengan acara halalbihalal yang digelar di rumah dinas Menko PM di Jakarta.
“Pak Presiden menelepon saya, mengucapkan selamat halalbihalal, dan menyampaikan agar para menteri tetap solid dan kompak. Jangan kerja sendiri-sendiri,” ujar Cak Imin kepada awak media.
Meskipun disampaikan dalam konteks silaturahmi, pernyataan ini langsung dibaca oleh banyak pihak sebagai sinyal politik penting. Di tengah dinamika pemerintahan, ajakan “merapatkan barisan” dinilai sebagai pesan terselubung dari Presiden bahwa evaluasi terhadap kinerja kabinet bisa saja sedang berlangsung—dan reshuffle bukan hal yang mustahil.
“Kalau dibaca dalam konteks politik, ini bisa jadi kode keras. Siapa yang tak seirama dengan arah Presiden, bisa saja digeser,” ungkap salah satu sumber internal yang dekat dengan lingkaran kabinet, kepada Bukaberitanya.com.
Dalam acara halalbihalal tersebut, sejumlah menteri tampak hadir dan terlibat dalam perbincangan santai namun sarat makna. Di antaranya Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, Menteri PAN-RB Rini Widyantini, Mendagri Tito Karnavian, dan Mensos Saifullah Yusuf.
Cak Imin mengatakan bahwa tidak ada pembahasan khusus terkait reshuffle, namun suasana kebatinan di antara para menteri menunjukkan kesadaran untuk memperkuat kerja bersama.
“Ngobrolnya umum, tapi nuansa kebersamaan sangat kuat. Kita ingin para menteri bekerja guyub, nggak ada yang merasa jalan sendiri,” tambahnya.
Dengan kembalinya aktivitas pemerintahan pasca-libur Lebaran, perhatian kini tertuju pada Istana. Apakah pesan “rapatkan barisan” hanya sekadar imbauan, atau menjadi pintu pembuka menuju reshuffle jilid dua?
Yang pasti, di balik salam Lebaran, politik sedang bergerak.









