Anggota tim redaksi BukaBeritanya.
Dapatkan update berita, perspektif, market dan cerita warga langsung ke email Anda.
SUMENEP — Matahari belum tinggi ketika puluhan petani mulai turun ke ladang tembakau di pelosok desa wilayah Kabupaten Sumenep. Dengan topi caping dan tangan penuh noda tanah, mereka memeriksa daun-daun tembakau yang mulai menguning, pertanda musim panen segera tiba. Bagi masyarakat Madura, khususnya di Sumenep, tembakau bukan sekadar tanaman musiman. Tembakau adalah sumber penghidupan, harapan keluarga, sekaligus warisan yang diwariskan turun-temurun. “Kalau musim bagus dan harga naik, hasil tembakau bisa buat biaya sekolah anak sampai memperbaiki rumah,” kata Hasan, seorang petani tembakau asal Kecamatan Guluk-Guluk. Namun di balik harapan itu, para petani harus menghadapi ketidakpastian yang datang setiap tahun. Cuaca yang sulit diprediksi menjadi tantangan utama. Hujan yang turun terlalu cepat bisa merusak kualitas daun tembakau dan menyebabkan harga jual anjlok. Selain faktor cuaca, persoalan harga juga menjadi keluhan klasik para petani. Mereka sering kali tidak memiliki posisi tawar yang kuat ketika menjual hasil panen kepada tengkulak atau pengepul. “Kadang biaya tanam mahal, pupuk naik, tenaga kerja juga mahal. Tapi saat panen harga belum tentu bagus,” ujar Hasan sambil menjemur daun tembakau di halaman rumahnya. Di sejumlah desa, aktivitas pengeringan tembakau menjadi pemandangan khas saat musim panen tiba. Daun-daun yang telah dipetik dijemur di bawah terik matahari sebelum diproses lebih lanjut. Aroma khas tembakau memenuhi udara kampung, menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Tidak hanya kaum pria, perempuan dan anak-anak muda di desa juga ikut membantu proses panen hingga pengeringan. Tradisi gotong royong masih terasa kuat di tengah aktivitas pertanian tembakau. Meski demikian, sebagian generasi muda mulai enggan melanjutkan pekerjaan sebagai petani. Mereka memilih merantau ke kota karena menganggap bertani tidak lagi menjanjikan secara ekonomi. Kondisi itu membuat sejumlah warga berharap ada perhatian lebih terhadap nasib petani tembakau, mulai dari stabilitas harga, akses pupuk, hingga perlindungan saat gagal panen. Bagi masyarakat Sumenep, tembakau tetap menjadi denyut ekonomi desa. Di tengah ketidakpastian musim dan pasar, para petani terus bertaruh pada tanah, cuaca, dan harapan agar hasil panen tahun ini membawa kehidupan yang lebih baik bagi keluarga mereka.
SAMPANG — Teriknya matahari yang menyelimuti kawasan pesisir Madura menjadi sumber harapan bagi para petani garam di Kabupaten Sampang. Di tengah hamparan tambak yang memutih, mereka menggantungkan hidup dari hasil panen garam yang diproduksi secara tradisional. Sejak pagi hari, para petani sudah mulai bekerja di tambak. Dengan alat sederhana, mereka mengatur aliran air laut, meratakan permukaan tambak, hingga mengumpulkan kristal garam yang mengering di bawah panas matahari. Bagi masyarakat pesisir, pekerjaan sebagai petani garam bukan sekadar mata pencaharian, tetapi warisan yang telah dijalani turun-temurun selama puluhan tahun. “Kalau cuaca bagus, hasil panen bisa lumayan. Tapi kalau hujan turun terus, garam bisa rusak dan gagal dipanen,” ujar seorang petani garam di kawasan pesisir Sampang, belum lama ini. Produksi garam tradisional sangat bergantung pada kondisi cuaca. Musim kemarau panjang menjadi waktu yang paling dinantikan petani karena proses pengeringan air laut berlangsung maksimal. Sebaliknya, hujan yang datang terlalu cepat dapat menyebabkan kerugian besar. Selain faktor cuaca, harga garam yang tidak stabil juga menjadi tantangan tersendiri bagi petani. Saat harga turun, penghasilan mereka ikut terdampak, sementara biaya kebutuhan hidup terus meningkat. Meski demikian, sebagian besar petani memilih tetap bertahan. Mereka menilai tambak garam sudah menjadi bagian dari identitas masyarakat Madura yang sulit dipisahkan dari kehidupan pesisir. Hamparan tambak garam di Sampang juga menghadirkan pemandangan khas yang menarik perhatian. Pantulan cahaya matahari di atas permukaan tambak menciptakan panorama unik yang menjadi ciri kawasan pesisir Madura. Sejumlah warga berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap petani garam rakyat, mulai dari stabilitas harga hingga dukungan fasilitas produksi agar kesejahteraan petani semakin meningkat. Di balik butiran kristal putih yang dihasilkan, terdapat cerita panjang tentang kerja keras, ketekunan, dan perjuangan masyarakat pesisir Madura dalam mempertahankan hidup di tengah ketidakpastian alam.